TERJEMAH AL HIKAM IBNU ATHAILLAH AS-SAKANDARI

Hikmah 1

مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ     .     

“ Salah satu tanda bergantungnya seseorang terhadap Amalnya adalah kurangnya Pengharapan dari Rahmat Allah SWT ketika adanya tergelincir (melakukan maksiat) ”.

* * *

Baca Juga : Template Blogger Toko Online ShopeQ

Hikmah 2

إرادَتُكَ التَّجْريدَ مَعَ إقامَةِ اللهِ إيّاكَ في الأسْبابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفيَّةِ، وإرادَتُكَ الأَسْبابَ مَعَ إقامَةِ اللهِ إيّاكَ فِي التَّجْريدِ انْحِطاطٌ عَنِ الهِمَّةِ العَلِيَّةِ.     

“ Keinginanmu untuk bertempat di Makom Tajrid (meninggalkan duniawi) padahal Allah SWT telah menetapkan engkau pada Makom Asbab (mengurusi duniawi) adalah termasuk menuruti syahwatmu yang samar. Dan Keinginanmu untuk bertempat Makom Asbab padahal Allah SWT telah menetapkanmu pada Makom Tajrid adalah kemerosotan dari cita-cita (kemauan) yang tinggi ”.

***

Hikmah 3

سَوَابِقُ الهِمَمِ لا تَخْرِقُ أَسْوارَ الأَقْدارِ.

“ Keinginan yang kuat itu tidak akan mampu menembus dinding takdir Allah SWT “.

***

Hikmah 4

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبيرِ. فَما قامَ بِهِ غَيرُكَ عَنْكَ لا تَقُمْ بهِ لِنَفْسِكَ.

“ Tenangkanlah hatimu dari mengatur, karena sesuatu yang telah diurus oleh selainmu (diurus oleh Allah SWT) maka kamu tidak akan bisa mengurus untuk dirimu “.

***

Hikmah 5

اجْتِهادُكَ فيما ضُمِنَ لَكَ وَتَقصيرُكَ فيما طُلِبَ مِنْكَ دَليلٌ عَلى انْطِماسِ البَصيرَةِ مِنْكَ.

“ Kesugguhanmu untuk mengejar apa yang sudah dijamin untukmu Allah SWT (urusan duniawi) dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dibebankan kepadamu (urusan ukhrowi) itu merupakan tanda butanya Bashirohmu (mata hati)”.

***

Hikmah 6

لا يَكُنْ تأَخُّرُ أَمَدِ العَطاءِ مَعَ الإلْحاحِ في الدُّعاءِ مُوْجِباً لِيأْسِكَ. فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الإِجابةَ فيما يَخْتارُهُ لَكَ لا فيما تَخْتارُهُ لِنَفْسِكَ. وَفي الوَقْتِ الَّذي يُريدُ لا فِي الوَقْتِ الَّذي تُرْيدُ.

“ Terlambat waktu datangnya pemberian Allah SWT meski sudah dimohonkan berulang-ulang janganlah membuat patah harapanmu, karena Allah SWT telah menjaminmu untuk mengabulkan permintaanmu sesuai dengan apa yang Dia pilihkan untukmu bukan menurut keinginan-keinginanmu untuk kemaslahatanmu. juga dalam waktu yang Dia kehendaki bukan pada waktu yang engkau kehendaki ”.

***

Hikmah 7

لا يُشَكّكَنَّكَ في الوَعْدِ عَدَمُ وُقوعِ المَوْعودِ، وإنْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ؛ لِئَلّا يَكونَ ذلِكَ قَدْحاً في بَصيرَتِكَ وإخْماداً لِنُوْرِ سَريرَتِكَ.

“ Janganlah sampai membuatmu ragu terhadap janji Allah SWT karena tidak adanya sesuatu yang di janjikan Allah SWT walaupun jelas waktunya, ini agar tidak menjadikan cacat Basirohmu (mata hatimu) dan memadamkan nur hatimu ”.

***

Hikmah 8

إذا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلا تُبالِ مَعَها أنْ قَلَّ عَمَلُكَ. فإِنّهُ ما فَتَحَها لَكَ إلا وَهُوَ يُريدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِليْكَ؛ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ والأَعْمالَ أَنْتَ مُهديها إلَيهِ. وَأَينَ ما تُهْديهِ إلَيهِ مِمَّا هُوُ مُوِرُدهُ عَلَيْكَ ؟!

“ Apabila Allah SWT telah membuka untukmu salah satu jalan pengenalan kepadamu maka jangan hiraukan mengapa itu terjadi padahal amalmu itu sedikit, karena Allah SWT tidak membukanya untukmu kecuali Ia menghendaki mengenalkan diriNya kepadamu, tidakkah engkau mengerti bahwa pengenalan Allah SWT padamu itu merupakan anugerahNya kepadamu sedangkan Amalmu adalah sesuatu yang engkau haturkan kepadaNya, apalah arti amal yang engkau persembahkan kepadaNya dibanding pengenalan diriNya  yang Dia anugerahkan kepadamu? ”.

***

Hikmah 9

تَنَوَّعَتْ أَجْناسُ الأَعْمالِ لِتَنَوُّعِ وارِداتِ الأَحْوالِ.

“Amal itu jenisnya beragam sebab beragamnya keadaan yang datang kepada seseorang”.

***

Hikmah 10

الأَعْمالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ، وَأَرْواحُها وُجودُ سِرِّ الإِخْلاصِ فِيها.

“Amal itu merupakan gambar yang berdiri (patung yang mati) dan ruhnya adalah wujudnya rahasia ikhlas didalamnya”.

***

Hikmah 11

إدْفِنْ وُجودَكَ في أَرْضِ الخُمولِ، فَما نَبَتَ مِمّا لَمْ يُدْفَنْ لا يَتِمُّ نِتاجُهُ.

“ Tanamlah wujudmu dalam bumi yang tersembunyi (tidak dikenal) karena benih yang tumbuh dan tidak di tanam maka hasilnya tidak akan sempurna ”.

***

Hikmah 12

ما نَفَعَ القَلْبَ شَئٌ مِثْلُ عُزْلةٍ يَدْخُلُ بِها مَيْدانَ فِكْرَةٍ.

“ Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati sebagaimana Uzlah yang dengannya dia memasuki luasnya mengangan-angan ”.

***

Hikmah 13

كَيْفَ يُشْرِقُ قَلْبٌ؛ صُوَرُ الأَكْوانِ مُنْطَبِعَةٌ في مِرْآتهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إلى اللهِ وَهُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَواتِهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَطمَعُ أنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اللهِ وَهُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابَةِ غَفَلاتِهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَرْجو أَنْ يَفْهَمَ دَقائِقَ الأَسْرارِ وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَواتِهِ؟!

“ Bagaimana hati dapat bersinar padahal gambar-gambar duniawi terlukis dalam cermin hati itu?, atau bagaimana hati dapat berangkat menuju Allah SWT padahal ia masih terbelenggu oleh syahwatnya?, bagaimana mungkin dia (hati) mempunyai keinginan menghadap kehadirat Allah SWT padahal dia belum bersuci dari junub kelalaiannya?, bagaimana mungkin dia mengharapkan untuk bisa memahami lembutnya rahasia-rahasia sementara dia belum bertaubat dari kesalahannya? ”.

***

Hikmah 14

الكونُ كلُّهُ ظُلْمةٌ وإِنَّما أَنارَهُ ظُهورُ الحقِّ فيهِ. فَمَنْ رَأى الكَوْنَ وَلَمْ يَشْهَدْهُ فيهِ أَوْ عِنْدَهُ أَوْ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَه فَقَدْ أَعْوَزَهُ وُجودُ الأَنْوارِ. وَحُجِبَتْ عَنْهُ شُموسُ المَعارِفِ بِسُحُبِ الآثارِ.

“ Alam semesta ini semuanya gelap dan yang membuat ia terang hanyalah karena terlihatnya Allah SWT yang Maha Haq didalamnya, maka barang siapa yang melihat alam semesta ini namun tidak menyaksikan Allah SWT didalamnya atau bersamanya atau sebelumnya atau sesudahnya, maka dia ditinggalkan oleh wujudnya Nur dan matahari kema’rifatan terhalangi darinya oleh awan-awan CiptaanNya ”.

***

Hikmah 15

مِمّا يَدُلُّكَ عَلَى وُجُودِ قَهْرِهِ سُبْحانَهُ أَنْ حَجَبَكَ عَنْهُ بِما لَيْسَ بِمَوْجودٍ مَعَهُ.

“ Diantara bukti adanya Sifat Kekuasaan Allah SWT, bahwa Dia menghalangimu dari melihatNya dengan tabir yang tidak wujud bersamaNya ”.

***

Hikmah 16

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ كُلَّ شَيءٍ! 

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ بِكُلِّ شَيءٍ!

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ في كُلِّ شَيءٍ!

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلِّ شَيءٍ!

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الظّاهِرُ قَبْلَ وُجودِ كُلِّ شَيءٍ!
كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ أَظْهَرُ مِنْ كُلِّ شَيءٍ!

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الواحِدُ الَّذِي لَيْسَ مَعَهُ شَيءٌ!

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ أَقْرَبُ إلَيْكَ مِنْ كُلِّ شَيءٍ!

وكَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَلولاهُ ما كانَ وُجودُ كُلِّ شَيءٍ! 

يا عَجَباً كَيْفَ يَظْهَرُ الوُجودُ في العَدَمِ!

أَمْ كَيْفَ يَثْبُتُ الحادِثُ مَعَ مَنْ لَهُ وَصْفُ القِدَمِ!

“ Bagaimana mungkin dapat dibayangkan ada sesuatu yang  menjadi hijab atasnya padahal Dialah yang menampakkan sesuatu “.

“ Bagaimana mungkin dapat dibayangkan ada sesuatu yang  menjadi hijab atasNya padahal Dialah yang tampak dengan sesuatu “.

“ Bagaimana mungkin dapat dibayangkan ada sesuatu yang  menjadi hijab atasNya padahal Dialah yang tampak dalam segala sesuatu “.

“ Bagaimana mungkin dapat dibayangkan ada sesuatu yang  menjadi hijab atasNya padahal Dialah yang menampakkan diri pada sesuatu “.

“ Bagaimana mungkin dapat dibayangkan ada sesuatu yang  menjadi hijab atasNya padahal Dialah yang tampak sebelum wujudNya sesuatu “.

“ Bagaimana mungkin dapat dibayangkan ada sesuatu yang  menjadi hijab atasNya padahal Dialah yang lebih tampak dibanding segala sesuatu “.

“ Bagaimana mungkin dapat dibayangkan ada sesuatu yang  menjadi hijab atasNya padahal Dialah yang Maha Esa  yang tidak ada disampingNya sesuatu “.

“ Bagaimana mungkin dapat dibayangkan ada sesuatu yang  menjadi hijab atasNya padahal Dia itu lebih dekat kepadamu dibanding segala sesuatu “.

“ Bagaimana mungkin dapat dibayangkan ada sesuatu yang  menjadi hijab atasNya padahal kalau tidak adaNya maka tidak akan ada wujudnya segala sesuatu “.

“ Alangkah mengherankannya bagaimana mungkin sifat wujud itu tampak  pada Makhluk yang tidak ada, dan bagaimana mungkin sesuatu yang baru itu dapat bersama Allah SWT yang mempunyai sifat Qidam (tidak berpermulaan) “.

untuk buku terjemah versi PDF nya bisa di dwonload DISINI

Leave a Reply

Open chat
Hello taidz.my.id
Saya ingin bertanya tentang TERJEMAH AL HIKAM IBNU ATHAILLAH AS-SAKANDARI

https://taidz.my.id/terjemah-al-hikam-ibnu-athaillah-as-sakandari